MEMBACA ADALAH JENDELA DUNIA

Master Of Tutorial

Cari

Home » » Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Caranya

Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Caranya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
kue lebaran
Berpuasa 6 Hari lagi Disaat
 Melimpahnya Makanan.
Puasa Syawal adalah berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah berakhirnya puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Puasa syawal ini adalah ujian pertama setelah kita menyelesaikan latihan menahan diri sebulan penuh di waktu Ramadhan, setelah kebebasan dilepas - yang haram kembali dihalalkan -, kue  berlimpah, kebahagiaan meliputi banyak sendi kehidupan, kita kembali diingatkan untuk kembali belajar menahan diri dengan berpuasa selama 6 hari lagi dalam bulan itu, agar amalan menahan diri menjadi terbiasa dalam aneka aktifitas kehidupan .

Dasar Hukum Puasa Syawal

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Jama'ah ahli hadits, kecuali Bukhari dan Nasa'i, dari Abu Ayub al-Anshari : bahwa Rasulullah saw. bersabda :                                                                                                    مَنْ صاَمَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ                      “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa selama setahun”.
  2. Dari Tsauban r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda :                                                     مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ السَّنَ.                                  ”Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan maka puasa sebulan itu sama dengan sepuluh bulan; dan dengan puasa enam hari setelah berbuka (‘Iedul-Fithri), maka ia melengkapi puasa setahun”.

Apakah Puasa Syawal Harus Dilakukan Berturut-Turut ?

“Tidak disyaratkan dilakukan berturut-turut, sehingga boleh saja dilakukan langsung setelah berbuka (pada hari raya) atau terpisah antara keduanya, atau dilakukan berturutan, atau secara acak. Sebab Nabi saw. bersabda :   مَنْ صَامَ شَوَّالَ
“Dan iringkanlah puasa Ramadlan dengan puasa enam hari bulan Syawal”.
Dalam satu riwayat :       مَنْ صَامَسِتًّا مِنْ شَوَّالَ
“Enam hari bulan Syawwal”.
bulan syawal
Enam Hari Selama Dalam
Bulan Syawal
Rasulullah saw. menjadikan bulan Syawal semua waktu untuk berpuasa tanpa mengkhususkan sebagian dari sebagian yang lain. Seandainya beliau menentukan sebagian saja, tentu beliau mengatakan enam hari pada awal bulan atau enam hari pada akhir bulan. Mengiringi Ramadhan dengan puasa enam hari bisa dilakukan di awal Syawal dan bisa pula di akhirnya. Sebab pasti antara puasa tersebut dan puasa Ramadlan terpisah dengan hari raya, padahal hari itu juga termasuk bulan Syawwal.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa puasa Syawwal pasti tidak menyatu dengan puasa Ramadlan (karena dipisah dengan hari raya). Kemudian karena melakukannya di awal bulan kuat karena lebih dekat dengan Ramadlan dan lebih bersambung, dan melakukan di akhirnya juga kuat karena menghindari menyatukan puasa Ramadlan dengan puasa selainnya, atau menjadikan hari raya kedua seperti yang dilakukan sebagian orang, maka keduanya adalah seimbang (di awal bulan atau di akhirnya)”
  • Al-Imam Ahmad r.a. berkata :مَنْ صَامَ إنما قال النبي {صلى الله عليه وسلم} ستة ايام من شوال فإذا صام ستة ايام من شوال لا يبالي فرق او تابع“ Tidak mengapa ia berpuasa, karena Nabi saw.  bersabda : ’Enam hari dari bulan Syawwal’. Maka bila seseorang berpuasa enam hari tersebut, tidak masalah apakah ia dilakukan secara acak atau berturutan”.
  • Adapun kalangan Syafi’iyyah, mereka berpendapat puasa enam hari bulan Syawal disunnahkan untuk dilakukan berurutan, sebagaimana dikatakan An-Nawawi berkata :مَنْ صَامَ يستحب صوم ستة ايام من شوال لهذا الحديث قالوا ويستحب ان يصومها متتايعة في اول شوال فان فرقها أو أخرها عن أول شوال جاز وكان فاعلا لاصل هذه السنة لعموم الحديث واطلاقه وهذا لا خلاف فيه عندنا وبه قال أحمد وداود  “Para shahabat kami berkata : ‘Disunnahkan puasa enam hari bulan Syawal berdasarkan hadits ini’. Mereka juga berkata : ‘Dan juga disunnahkan berpuasa secara berurutan mulai awal Syawal. Namun jika dilakukan secara acak, atau ditunda hingga akhir bulan, maka itu jga dibolehkan, dan orang yang melakukannya telah menjalankan sunnah sesuai dengan keumuman makna hadits dan kemutlakannya. Tidak ada perbedaan (pendapat) di kalangan madzhab kami. Dan ini juga menjadi pendapat Ahmad dan Abu Dawud”.
  • Namun pendapat kalangan Syafi’iyyah ini tidak benar, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan disunnahkannya berpuasa secara berurutan kecuali keumuman perintah bersegera melaksankan kebajikan. Perintah (puasa Syawal) ini bersifat longgar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Puasa Syawal Sebelum Membayar Hutang Puasa Ramadhan

  • Barangsiapa melakukan puasa enam hari bulan Syawwal sebelum mengqadla puasa Ramadlan yang tertinggal, maka dia tidak mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang dijelaskan Nabi saw. yaitu sama dengan puasa setahun. Sebab dalam hadits Tsauban hal itu dijelaskan secara rinci, bahwa satu bulan sama dengan sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah berbuka melengkapi menjadi setahun. Sedangkan orang yang masih hutang puasa Ramadlan belum menyempurnakan puasa sebulan. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul-Mumti’ (6/448) :
  • “Kemudian, sesungguhnya yang menjadi sunnah adalah ia berpuasa enam hari
    tempat sepi
    Bersegeralah Membayar Hutang
     Puasa Sebelum Datangnya Ajal.
    setelah selesai mengqadla puasa Ramadlan, bukan sebelumnya. Jika ia masih mempunyai kewajiban qadla’ kemudian ia puasa enam hari sebelum menunaikan qadla tersebut, maka ia tidak mendapatkan pahala puasa (yang disebutkan dalam hadits). Karena Nabi saw. bersabda :
    ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan’. Maka jika ia masih mempunyai tersisa hutang puasa Ramadlan, maka tidak benar dikatakan ia telah berpuasa Ramadlan, akan tetapi ia berpuasa pada sebagiannya. Dan permasalahan ini tidaklah termasuk yang dijelaskan mengenai perbedaan (pendapat) bolehnya puasa sunnah sebelum qadla’, karena puasa sunnah enam hari ini telah di-taqyid oleh Nabi saw. bahwa ia dilakukan setelah puasa Ramadlan….”

Wanita Meminta Izin Suami Jika Hendak Berpuasa Sunnat

Dalam hal beribadah tidak ada perbedaan kesunahan yang berlaku antara wanita dengan laki-laki, termasuk dalam puasa sunah. Tetapi khusus bagi wanita yang telah bersuami, untuk melakukan ibadah puasa sunah ia harus lebih dahulu meminta izin kepada suaminya. Sebab kalau tidak mendapat izin suaminya dan puasanya itu dilakukan, maka bukanlah mendapatkan pahala tetapi malahan mendapat dosa. Mengapa harus meminta izin suami dahulu, padahal itu dalam rangka beribadah ? Benar, justru dalam rangka ibadah itu dirinya harus meminta izin terlebih dulu, sebab ibadah yang dilakukan kali ini bukanlah ibadah wajib. Lain lagi kalau puasa wajib, ia tidak usah minta izin suaminya terlebih dahulu. Berbeda kalau wanita yang tidak atau belum bersuami, ia boleh melakukan puasa sunnah tanpa meminta izin terlebih dahulu, karean tidak ada yang perlu dilayani. Hal ini bukan berarti kalau wanita yang bersuami itu kesempatan ibadahnya semakin berkurang, Bukan begitu, ssebab melayani suami dan melayani anak-anak juga dihitung sebagai ibadah.


sumber : jadipintar.com 

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih atas saran & kritiknya !!

Luas Lingkaran

MENGHITUNG LUAS LINGKARAN

Nilai jari-jari   = 

Terbaru

Lokasi Master of Tutorial

Anda Pengunjung ke :

Translate

Google+ Badge

Google+ Followers

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.