IQRO' - BACALAH

Master Of Tutorial

Cari

Home » » Shalat Idul Fitri; Kaidah dan Sunnah-Sunnahnya

Shalat Idul Fitri; Kaidah dan Sunnah-Sunnahnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Shalat id
Shalat 'Idul Fitri.
Shalat 'Idul Fitri adalah shalat yang dilakukan oleh umat Muslim sekali dalam setahun. Pelaksanaan shalat 'Idul fitri (shalat 'id) bertepatan pada tanggal 1 Syawal setelah kita selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, Shalat Idul Fitri itu disyari'atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya ialah sunnah mu'akkad, yang oleh Nabi saw. selalu dikerjakan, dan disuruhnya semua lelaki atau perempuan agar mengunjunginya.

Beberapa Kaidah dan Sunah Shalat Idul Fitri

1. Sunnah Mandi, Memakai Wangi-Wangian dan Memakai Pakaian Terbaik

Dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya seterusnya dari kakeknya: "Bahwa Nabi saw
baju gamis
Pakaian Terbaik.
. memakai baju buatan Yaman yang indah pada tiap hari raya."
(Diriwayatkan oleh Syafi'i dan Baghawi).
Dari Hasan as-Shibti, katanya: "Rasulullah saw. memerintahkan kami agar pada hari raya itu mengenakan pakaian yang terbagus, memakai wangi-wangian yang terbaik, dan berkurban dengan hewan yang terbaik (Diriwayatkan oleh Hakim, hanya dalam sanadnya terdapat Ishak bin Barzakh yang oleh al-Azdi dianggap dha'if, tapi oleh Ibnu Hibban dapat dipercaya).- Pemotongan hewan maksudnya pada hari raya Idul Adha-.
Berkata Ibnul Qayyim: "Pada kedua hari raya itu, Rasulullah saw. biasa mengenakan pakaian yang terbaik, dan ada sepasang pakaian beliau yang khusus digunakannya pada shalat hari raya dan shalat Jum'at.

2. Makan Dulu Sebelum Pergi Shalat Idul Fitri

Disunatkan memakan beberapa biji kurma dengan jumlah ganjil sebelum pergi mengerjakan shalat 'Idul Fitri.
Dari Anas, katanya: " Pada waktu 'Idul fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil." (Riwayat Ahmad dan Bukhari). Dan dari Buraidah, katanya: "Nabi saw. tidak berangkat pada waktu 'Idul Fitri sebelum makan dulu, dan tidak makan pada waktu 'Idul Adha sebelum pulang." (Diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah, juga oleh Ahmad yang menambahkan: "Kemudian beliau makan dari hasil kurbannya.")

3. Tempat Shalat

shalat di lapangan
Di Lapangan Lebih Utama.
Shalat hari raya itu boleh dilakukan di masjid, tapi melakukannya di mushola, yakni lapangan di luar masjid, adalah lebih utama. Demikian itu ialah selama tidak ada halangan seperti hujan dan sebagainya, sebab Rasulullah saw. biasa melakukan shalat dua hari raya itu di mushala (sebuah lapangan di pintu timur kota Madinah) dan tidak pernah melakukannya di masjid, kecuali hanya sekali yaitu ketika turun hujan. Dari Abu Hurairah r.a.: "Bahwa pada suatu hari raya, turun hujan, maka nabi saw.pun bershalat dengan sahabat-sahabatnya di masjid. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, dalam At-Talkhish Hafizh mengatakan bahwa isnadnya dha'if, sedang Adz-Dzahabi menyatakan bahwa hadits ini munkar).

4. Ikut Sertanya Wanita dan Anak-Anak

Disyari'atkan pada kedua hari raya itu keluarnya anak-anak serta kaum wanita, gadis atau janda, yang masih remaja atau yang sudah tua, bahkan juga wanita-wanita haid, berdasarkan hadits Ummu 'Athiyah: "Kami diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haid pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu, juga doa dari kaum muslimin. Hanya saja supaya wanita-wanita yang haid menjauhi tempat shalat." (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dari Ibnu Abbas: "Bahwa Rasulullah saw. keluar dengan seluruh isteri dan anak-anak perempuannya pada waktu dua hari raya."(Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi).

5. Menempuh Jalan Yang Berbeda

persimpangan jalan
Jalan Pergi-Pulang Yang Berbeda.
Sebagian ahli berpendapat bahwa pada shalat 'Id disunatkan menempuh jalan yang berlainan ketika pergi dan pulang. baik sebagai imam maupun makmum. Dari Jabir r.a.: "Bahwa Nabi saw. pada waktu hari raya, menempuh jalan yang berlainan." (Riwayat Bukhari).
Dan dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Apabila Nabi saw. pergi shalat hari raya, maka ketika pulang beliau menempuh jalan yang berlainan dengan di waktu perginya." (Riwayat Ahmad, Muslim dan Turmudzi).

6. Waktu Shalat 'Id

Waktunya ialah mulai terbit matahari setinggi kira-kira tiga meter, dan berakhir apabila telah tergelincir, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin hasan Banna yang diterima dari Jundub, katanya: "Rasulullah saw. bershalat 'Idul Fitri bersama kami, sedang matahari tingginya kira-kira dua penggalah, dan bershalat 'Idul Adha sedang tingginya kira-kira sepenggalah."
Dari hadits tersebut menyatakan disunatkannya menyegerakan shalat 'Idul Adha dan melambatkan shalat 'Idul fitri.

7. Adzan dan Qamat Waktu Shalat Dua Hari Raya

Berkata Ibnul Qayyim: "Apabila Rasulullah saw. telah sampai di mushala, beliau memulai shalat tanpa adzan dan qamat, serta tidak pula mengucapkan 'Ashalaatu jami'at. jadi menurut sunnah tidaklah dilakukan suatu apapun dari hal-hal tersebut di atas." Dari Ibnu Abbas dan Jabir, kata mereka: "Pada hari raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adha, tidaklah diserukan adzan." (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan Muslim meriwayatkan dari 'Atha', katanya: "Saya diberitahu oleh Jabir, bahwa pada shalat 'Idul Fitri itu tidak diserukan adzan, baik sebelum atau sesudah imam keluar, tidak pula qamat, panggilan atau apapun. Tegasnya pada hari itu tidak ada panggilan apa-apa atau qamat." Dari Sa'ad bin Abi Waqash: "Bahwa Nabi saw. mengerjakan shalat hari raya tanpa adzan dan qamat, dan di waktu berkhutbah beliau berdiri, dan kedua khutbahnya itu beliau pisahkan dengan duduk sebentar." (Riwayat Bazzar).

8. Takbir Pada Shalat Dua Hari Raya

Shalat hari raya itu dua raka'at. Pada raka'at pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah disunatkan membaca takbir 7 kali, dan pada raka'at kedua 5 kali, dengan mengangkat kedua tangan setiap kali takbir.
Diterima dari 'Amir bin Syu'aib, dari ayahnya selanjutnya dari kakeknya: "Bahwa Nabi saw. bertakbir dua belas kali, tujuh kali pada raka'at petama dan lima kali pada raka'at kedua. Beliau tidak mengerjakan shalat sunat apapun, baik sebelum atau sesudah shalat hari raya itu." (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah. Ahmad mengatakan bahwa pendapat itulah yang dianutnya). Mengenai yang dilakukan antara dua takbir, maka Nabi saw. hanya diam sebentar saja, dan tidak diterima keterangan mengenai bacaan tertentu yang diucapkannya sewaktu diam itu. Tetapi Thabrani dan Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang kuat dari Ibnu Mas'ud, yakni dari ucapan dan perbuatannya, bahwa ia memuji dan menyanjung Allah serta membaca shalawat atas Nabi saw. Riwayat ini juga diterima dari Hudzaifah dan Abu Musa. Menurut Ahmad dan Syafi'i sunat antara dua takbir itu membaca dzikir misalnya: "Subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar." Tetapi Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa takbir itu harus bersambung tanpa terpisah oleh bacaan apapun.

9. Khutbah Hari Raya

khutbah 'id
Khutbah 'Id.
Khotbah hari raya itu sunat, demikian pula mendengarkannya. Diterima dari Abdullah Ibnus Sa-ib, katanya: "Saya menghadiri shalat 'Id bersama Rasulullah saw. Setelah selesai shalat beliau bersabda: 'Kami akan memberikan khobah, barangsiapa yang ingin mendengarnya, duduklah, dan barangsiapa yang tak ingin, silakan pergi'!" (Riwayat Nasa'i, Abu Daud dan Ibnu Majah). Berkata Ibnul Qoyyim: "Nabi saw. memulai semua khotbahnya dengan hamdalah, dan tidak sebuah haditspun yang menyebutkan bahwa beliau memulai khotbah kedua hari raya dengan membaca takbir. Yang diriwayatkan oleh ibnu Majah dalam sunannya dari Sa'ad, muadzdzin Nabi saw, hanyalah bahwa beliau bertakbir di sela-sela khotbah hari raya. Tetapi ini tiada berarti bahwa beliau memulai khotbahnya dengan takbir."


                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Sumber : Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq, telah diedit untuk keselarasan.
sumber : jadipintar.com 

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas saran & kritiknya !!

Luas Lingkaran

MENGHITUNG LUAS LINGKARAN

Nilai jari-jari   = 

Terbaru

Lokasi Master of Tutorial

Anda Pengunjung ke :

Translate

Google+ Badge

Google+ Followers

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.